Balasan bagi seorang penipu

 *Balasan Bagi Seorang Penipu…Terkadang kita mendapatkan pelajaran dari tingkah laku binatang, salah satu di antaranya adalah,pada kisah seekor kera yang menghukumi seseorang yang curang dalam bermu’amalah. Karena ingin meraup keuntungan yang banyak, dia telah memakan harta orang lain dengan bathil, padahal Allah ‘azza wajalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil.” {QS. An-Nisa’: 29.}

– Al-Kisah..

Dari Abu Hurairah rodhiyallaahu ‘anhu, dari Rasulullah shallahu alayhi wa’alaa aalihi wasallam beliau bersabda, “Ada seorang laki-laki yang pekerjaannya menjual khamer (minuman keras) di dalam kapal, lalu ia mencampur khamer itu dengan air dan bersamanya ada seekor kera. Tiba-tiba kera itu mengambil kantong (uangnya) lalu naik ke tiang kapal, kemudian menumpahkan sebagian dinarnya ke lautan dan sebagian dinar yang lain ke dalam kapal, hingga membuatnya menjadi dua bagian.” Kisah di atas diriwayatkan Imam Ahmad (2/306) dan Al-Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (4/332) dan juga yang lainnya dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Alhadist Ash-Shahihiah

– Ibroh (Pelajaran)…
Ini adalah kisah menakjubkan, kita harus mengambil pelajaran dan ibroh darinya, terutama pada zaman sekarang ini, para pelaku perekonomian sedikit mengindahkan etika mu’amalah dan syari’at Islam.

Praktek-praktek yang demikian pun kerap kita jumpai di zaman kita sekarang ini, seorang yang berpenampilan serba mewah tanpa malu tertawa bangga atas kekayaannya lengkap dengan senyum sinis kepada orang yang di tindasnya seakan bangga dengan kemunafikannya, mengjegal rizki jutaan rakyat yang titipkan Allah di pundaknya, mengubah senyum-senyum manis menjadi wajah yang bermuram durja, menghakimi hak-hak yang sewajarnya di dapat rakyat kecil, memutus impian sang malaikat kecil untuk mencapai cita-citanya, mengjagal kebahagian jutaan ummat dengan serakah demi kesenangan sesaat di dunia yang fana dan tertawa lepas seakan mengikuti jejak sesepuhnya abu lahab dan tersenyum sadis layaknya abu jahal, mereka adalah orang-orang yang memakan harta manusia dengan cara yang bathil, mereka akan menerima balasannya. Rasulullaah shalallahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,

من سحت فالنار اولى به

“Sesungguhnya tidaklah masuk surga daging yang tumbuh dari kemurkaan Allah (sesuatu yang haram) dan nereka lebih pantas untuknya.” {HR. Ahmad 28/468. At-Tirmidzi 3/1.}.

Maka ini adalah ancaman yang sangat keras yang menunjukkan bahwa memakan harta manusia dengan cara yang bathil termasuk perbuatan dosa besar.

BILA ADA YANG MENGATAKAN MENGAPA LAKI-LAKI TERSEBUT DICELA SEBAB DIA MENCAMPUR KHAMER DENGAN AIR DAN TIDAK DICELA SEBAB IA BERJUALAN KHAMER PADAHAL KHAMER ADALAH SESUATU YANG DIHARAMKAN OLEH ALLAH?!?

Maka jawabannya adalah bahwa khamer pada waktu itu bukanlah sesuatu yang haram dalam syari’at laki-laki tersebut, dan demikian pula di awal-awal Islam, khamer adalah minuman yang halal di kota Madinah, setelah itu peminumnya dicela tapi belum sampai diharamkan, sebagaimana firman Allah,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” {QS.Al-Baqoroh: 219.}

Kemudian setelah beberapa waktu, meminum khamer diharamkan pada waktu seorang hendak melaksanakan sholat saja sekalipun masih diperbolehkan untuk dijadikan barang dagangan, sebagaimana firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu tidak mengerti apa yang kamu ucapkan.” {QS. An-Nisa’: 43.} Baru kemudian Allah mengharamkan khamer secara tegas, karena meminum khamer akan banyak menimbulkan kemudhorotan, sebagaimana dalam firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, (berqurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan – perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” {QS. Al-Maidah: 90.} Sehingga diceritakan setelah turunnya ayat tersebut jalan-jalan kota Madinah banjir dengan khamer, bahkan tatkala gelas-gelas dan botol-botol itu masih di tangan-tangan mereka setelah mereka mendengar ayat tersebut mereka tumpahkan minuman kesenangan dan kebanggaan mereka. Walillaahil hamd…
– Mutiara Kisah…

1. Kisah di atas merupakan peringatan keras dari praktek-praktek penipuan yang umum terjadi di kalangan manusia, karena harta yang didapat dari praktek penjualan semacam itu dapat lenyap di dunia, sebelum hilang pula nanti di akherat. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam melarang keras dari praktek-praktek penipuan seperti dalam sabdanya,

من غشنا فليس من

“Barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukanlah termasuk golongan kami.” {HR. Muslim 1/69. Abu Dawud 3452. At-Tirmidzi 1/247. Lihat Ash-Shohihah 1058.}

Dalam riwayat lain, “Bukanlah termasuk golongan kami seorang yang menipu saudaranya muslim atau memudhorotkannya atau membuat makar kepadanya.”

Makna hadits di atas menurut ahli ilmu adalah bahwasanya dia bukanlah termasuk seorang yang berjalan di atas petunjuk kami dan berqudwah (mencontoh) kepada ilmu dan amal kami dan kebaikan jalan yang kami tempuh. Seperti bila seorang mengatakan kepada anaknya tatkala ia tidak ridho dengan perbuatan yang ia kerjakan lalu mengatakan, “Engkau bukanlah dari (golongan) ku.” Maka demikianlah makna dari setiap perkataan dari hadits-hadits yang senada dengan hadits di atas. {Lihat Syarah Shohih Muslim 1/210.}

Berkata Ibnul ‘Arobi, “Perangai ini (menipu saudaranya semuslim) hukumnya haram berdasarkan ijma’ ummat.” {Lihat Faidul Qodir 5/493.}

2. Seekor kera itu dapat berhukum dengan hukum yang adil tatkala menghukumi harta orang tersebut.

Pertanya’annya, apakah di jaman sekarang di era yang sangat modern ini tidak ada hakim yang adil seadil kera di jaman dahulu?apalah arti mereka yang duduk berduksi jika tidak mengerti arti keadilan itu sendiri?
Ataukah kera lebih pandai dari para petinggi di zaman sekarang ini?

Bukan kita yang seharusnya menjawab tapi merakah yang mempunyai jawabannya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s